Thursday, 8 April 2010

Pengurus PDIP 2010-2015


Liputan6.com, Sanur: Secara mengejutkan, Pramono Anung Wibowo tak lagi menjadi Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan. Posisinya digantikan Tjahyo Kumolo, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR. "Setelah saya terus berpikir dan berpikir, akhirnya saya memberikan kepada Tjahjo Kumolo," kata Megawati Soekarnoputri saat membacakan susunan kepengurusan baru di ruang sidang utama, Inna Grand Bali Beach Hotel, Sanur, Bali, Kamis (8/4).

Megawati juga mengucapkan terima kasih kepada Pramono Anung yang telah menjalankan tugas sebagai Sekjen PDIP periode 2005 - 2010 dengan baik. Pramono yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI tidak lagi menjabat dalam susunan kepengurusan PDIP periode 2010 - 2015.


Tjahyo dalam periode lalu Tjahjo duduk dalam jabatan Ketua DPP Bidang Politik. Tjahjo kemudian diambil sumpahnya bersama 25 pengurus lainnya langsung oleh Megawati. Mega berharap para pengurus ini nantinya segera bekerja untuk membesarkan partai dan bekerja untuk rakyat.(AYB)

Berikut daftar lengkap pengurus dewan pengurus pusat (DPP) PDI Perjuangan yang disampaikan di Kongres III PDI Perjuangan, di Sanur, Denpasar, Bali.

Ketua Umum : Megawati Soekarnoputri

Ketua:
1. Sidharto Danusubroto
2. Puan Maharani
3. M. Idham Samawi
4. Djarot Saeful Hidayat
5. Rano Karno
6. Effendi MS Simbolon
7. Mindo Sianipar
8. Ribka Tjiptaning
9. Hamka Haq
10. Nusjirwan Sudjono
11. Irianti Sukamdani
12. Maruarar Sirait
13. I Made Urip
14. Bambang Wuryanto
15. Mohamamad Prakosa
16. Emir Moeis
17. Trimedya Panjaitan
18. Andreas Pareira
19. Komaruddin


Sekretaris Jenderal: Tjahyo Kumolo
Wakil Sekretaris Jenderal:
1. Eriko Sutardaya
2. Ahmad Basarah
3. Hasto Kristiyanto

Bendahara Umum: Olly Dondo Kombe
Wakil Bendahara Umum:
Rudianto Chen
Yuliari Peter Batubara.

Dari sini

Partai Keluarga


DENPASAR, KOMPAS.com - Hari Kamis (8/4/10) besok, rencananya Ketua Umum DPP PDI-P terpilih Megawati Soekarnoputri akan mengumumkan secara resmi susunan kepengurusan DPP PDI-P hasil Kongres III yang diselenggarakan di Hotel Grand Ina Bali Beach Hotel. Nama Puan Maharani dan Prananda Prabowo, diyakini akan masuk dalam struktur kepengurusan DPP PDI-P untuk lima tahun mendatang.

"Prediksi saya, Puan dan Prananda, termasuk Puti akan masuk dalam kepengurusan DPP PDI-P. Termasuk, para tokoh muda lainnya. Tapi, siapa yang akan masuk, kita tunggu pengumuman Ibu Mega nanti. Kalau ditanya apa Mas Guruh juga masuk, saya nggak yakin," ujar salah seorang peserta Kongres PDI-P yang meminta namanya tidak disebutkan kepada Persda Newtwork, Rabu (7/4/10).



Sementara itu, Rabu petang, Puan Maharani, masih merasa yakin dirinya akan mengisi posisi Wakil Ketua Umum. Puan, kepada para wartawan di sela-sela acara Kongres III, Puan menyatakan posisi waketum masih mungkin untuk direalisasikan.

"Menjadi hak ketua umum terpilih untuk menambah, menyetujui atau mengurangi struktur sebagai formatur tunggal. Jadi, kita serahkan saja kepada ketua umum terpilih nanti," kata Puan yakin.

"Saya selalu siap menerima tugas dari partai apapun posisinya. Saya juga berharap 60 persen kalangan muda," ujarnya lagi.

Namun, keyakinan Puan Maharani seakan dimentahkan oleh Sekjen DPP PDI-P demisioner, Pramono Anung dan pemimpin sidang Komisi B yang juga Ketua DPD Jawa Timur Sirmaji. Malahan, Sirmaji mengatakan, konsep awal dalam draft AD/ART awalnya struktur kepengurusan DPP berjumlah 33 akan berkurang menjadi 27 saja.

Ia mengatakan dalam AD/ART yang baru tidak diatur posisi waketum meski, dikembalikan lagi ke ketua umum terpilih.

"Soal waketum tidak ada dan sudah final. Tidak ada posisi itu dalam AD/ART partai," Sirmaji menegaskan.

Sementara sejumlah nama, kini beredar di arena kongres, yang kemungkinan akan masuk dalam struktur kepengurusan DPP PDI-P periode 5 tahun ke depan, selain Puan Maharani, Prananda Prabowo dan Puti Guntur Soekarnoputri.

Beberapa nama politisi muda PDI-P yang diprediksi masuk antara lain, Maruarar Sirait, Budiman Sujatmiko, Effendi Simbolon, Rieke Diah Pitaloka, Ganjar Pranowo, Ari Junaedi, Hasto Kristanto, Irmadi Lubis, Syarif Bastaman, Eva Kusuma Sundari serta beberapa nama tokoh muda PDI-P lainnya.

Sementara tokoh lama PDI-P yang kemungkinan masih masuk dalam struktur DPP antara lain, Pramono Anung, Tjahjo Kumolo. Nama baru tapi sudah tidak muda lagi antara lain, TB Hasanuddin, Andreas H Pariera, Kwik Kian Gie, Ryamizard Ryacuddu, Theo Syafei, Palaguna dan beberapa lainnya.

Dari sini

Mr. X


Liputan6.com, Jakarta: Disebut lagi makelar kasus ala Gayus Tambunan yang gentayangan. Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III di Jakarta, Kamis (8/4) sore, mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji menyebut Mr. X. Orang itu dianggap kelas jumbo atau lebih besar mengantongi uang pajak.

Pada kesempatan itu Susno juga menyebut sejumlah perusahaan yang diduga pengemplang pajak. Misalnya PT Salmah Arowana Lestari (SAL) yang ada di Pekanbaru, Riau. Dari perusahaan bermasalah dengan pajak ini kongkalikong terjalin makelar-makelar kasus [baca: Susno Ungkap Kasus Pajak Selain Gayus].

Sebelumnya juga PT Daihan di Sukabumi, Jawa Barat, yang disebut juga membayar pajak lewat Gayus. Bahkan PT Perdana Karya Perkasa di Balikpapan, Kalimantan Timur, juga diduga menerima uang Rp 9.34 miliar hasil rekayasa pajak dari Gayus.(AIS)

Sumber: Dari sini

Tempe

Tempe Oh Tempe ( Allah Lebih Tahu Apa Yang Kita Butuh Saat ini )

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe.
Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup.
Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. .." demikian dia selalu memaknai hidupnya.
Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh.Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.
Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.
Di tengah putus asa,terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini.
Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..." Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.
Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Diayakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi.
Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang,dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah.Bantulah aku, kabulkan doaku..."
Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi.
Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang... pasti," yakinnya.
Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.
Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah jadi tempe!" batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.
Air mata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Apakah Tuhan ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.
Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba tiba merasa lapar... merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.
Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku.
Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...
Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. "Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya?"
Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe..." Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe..."
"Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, sahabat?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! "Alhamdulillah! " pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.
Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?"
"Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Shalauddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?"
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Sahabat……Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan "memaksakan" Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa dan merasa ditinggalkan Padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah SEMPURNA. Banyak orang yang merasa frustasi karena kenyataan mereka tidak sesuai dengan impian. Sebagai contoh, ada seorang anak yang ingin kuliah di Universitas A, tapi nyatanya biaya tidak mencukupi. Atau, mereka yg merantau ke kota besar, bermimpi ingin mendapatkan pekerjaan berkelas nasional bahkan internasional, tapi nyatanya yang didapatkan hanyalah pekerjaan biasa-biasa saja & apa adanya.
Ada juga seorang pengusaha, yg mungkin mengharapkan kenaikan profit 10 kali, malah mengalami kebangkrutan. Apa yang kita harapkan, kadang memang tidak sesuai dengan kenyataan. Lalu apa yang harus kita lakukan? Berikut adalah 3 langkah atau tips yang bisa Kita lakukan saat mimpi tidak sesuai dengan kenyataan:
1. Bertindaklah selalu secara fleksibel dan dinamis Jika Anda betul-betul ingin menggapai kesuksesan, maka diperlukan *kesiapan* untuk bisa bertindak secara
fleksible dan dinamis terhadap setiap perubahan yang terjadi.
Saat ada badai atau angin topan yang besar, tidak jarang kita melihat pohon yang memiliki batang yang sangat besar tumbang! Apa sebab? Sebab mereka tidak kuat menahan beban yang diterima. Namun coba tengoklah bambu! Karena batangnya yang lentur, maka bambu bisa fleksibel bergerak ke segala arah, dan jarang tumbang!
Nah, begitu pun dengan kita! Jika kita bertindak dan berpikir dinamis dan juga fleksibel, maka kita akan lebih tahan dalam menghadapi tantangan dan perubahan serta masalah yang datang.
2. Berpikirlah bahwa INILAH yang terbaik untuk kita! , Yakinlah bahwa apa yang sedang terjadi adalah yang terbaik untuk kita. Kita tidak pernah tahu skenario yang telah ditetapkan-Nya. Karena, segala sesuatu yang menurut logika kita baik, bisa jadi justru
sebaliknya di mata Tuhan! Dan jangan pernah berhenti untuk berdo’a sebagaimana nenek Penjual Tempe diatas, sudah jelas-jelas pertolongan sudah di depan mata, tapi dia tetap berdo’a.
3. Siapkan MENTAL PEMENANG! Saat kita mengalami kegagalan, lebih baik instropeksi diri daripada menyalahkan takdir. Siapa tahu, kita memang belum siap jadi pemenang! Bisa jadi kesuksesan hanya akan membuat kita menjadi sombong, dan karena saking sayangnya Tuhan kepada kita, Ia tidak mau hamba-Nya berbuat dosa. Rejeki dan kemenangan itu sungguh tidak terkira banyaknya dari Tuhan, masih banyak yang menggantung di langit! :Sekarang tinggal bagaimana cara kita! Apakah mau meraihnya? atau mengharapkan turun dengan sendirinya?
Saya sarankan, jangan pernah memilih yang kedua, Kita semua tahu bahwa yang namanya kemenangan itu seringkali dimiliki oleh mereka yang tdk pernah berhenti berusaha!
Terkadang Tuhan menutup pintu yang satu, untuk membuka pintu yang lain. Mari Kita Raih Kesuksesan Bersama Rumah Yatim Indonesia, Do’a Kami Senantiasa Menyertai Anda, Insya Allah…

Raja Erizman


VIVAnews - Mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji kembali menegaskan bahwa pencairan dana sebesar Rp 28 miliar dilakukan saat proses transisi pergantian dirinya selaku Kabareskrim. Tidak ada satu pun mantan anak buahnya yang mau terus terang siapa yang memerintahkan pencairan dana itu.

"Pertengahan Maret 2010 saya ketemu reserse dari Direktorat I dan saya tanya apakah yang Rp 28 miliar sudah masuk pengadilan? Dia hanya ketawa. Saya tanya kenapa ketawa?" ungkap Susno dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR, Jakarta, Kamis 7 April 2010.


Karena tidak puas dengan jawaban anak buahnya itu, Susno kemudian menelepon Direktur II Bareskrim Brigjen Radja Erizman yang menggantikan posisi Direktur II Edmond Ilyas. Keduanya lalu bertemu di rumah Susno di kawasan Cinere, Jakarta Selatan.

"Saat itu saya tanya kenapa uang itu dicairkan? Dia hanya ketawa saja. Saya tanya kenapa tertawa? Dia kemudian menjawab tidak jelas. Semacam ada kekuatan di belakang dia. Lalu saya bilang Anda akan menanggung risiko," kata Susno.

Karenanya Susno sangat yakin dalam kasus Gayus Tambunan ada makelar kasus, yakni 'si Mr X' sebab Gayus hanyalah artis, begitu pula Andi Kokasih yang hanya boneka. Ia lalu menyampaikan hal ini kepada petinggi Polri, termasuk Kadiv Humas. Hingga dua minggu berlalu tidak juga ada respon.

Susno lalu membeberkan kronologi kasus Gayus Tambunan yang berawal dari empat laporan Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) senilai Rp 28 miliar yang terdiri dari US$ dan rupiah. Dari hasil analisis PPATK, uang tersebut diduga keras berasal dari tindak pidana korupsi perpajakan. Namun oleh penyidik, kasus tersebut kemudian direkayasa. Barang bukti yang disimpan di beberapa rekening kemudian dipecah dan diambil hanya Rp 370 juta.

Kemudian, diciptakanlah pemilik yakni boneka yang bernama Andi Kosasih untuk membeli tanah dan pengusaha yang bergerak di bidang properti. Alasan ini tidak masuk akal karena pengusaha jarang sekali menitipkan uangnya untuk membeli tanah, biasanya pengusaha tidak menitipkan uang untuk menyicil tapi sekaligus, atau memasukkan uangnya ke dalam deposito rupiah dan dolar. Kata Susno, ini hanya akan mempersulit membayaraan.

Kemudian Susno melakukan pengecekan apakah betul dia anggota Real Estate Indonesia (REI). ternyata dari penelusuran Andi Kosasih bukan anggota REI. Dan yang lebih aneh lagi dalam berkas yang diajukan polisi dia dijerat dengan tiga pasal, yakni pasal 3 UU Tindak Pidana Pencucian Uang, kemudian pasal tindak pidana korupsi dan pasal 372 KUHP tentang penggelapan.

"Aneh bin ajaib pasal-pasal tersebut, karena setelah berkas diterima dan dilimpahkan, jaksa penuntut mengubah dengan dakwaan hanya pasal 372, dua pasal hilang," katanya.
Kemudian di dalam persidangan, Gayus dituntut dengan percobaan, oleh hakim lalu divonis bebas, dan uang Rp 370 juta dikembalikan kepada terdakwa. Kemudian sisa uang Rp 28 miliar pada 23 November 2009 dicairkan. Saat pencairan uang adalah saat transisi antara Kabareskrim lama dan baru.


"Saya dapat SK tanggal 24 November, tanggal 25 November saya cuti ke Pagar Alam, 29 November kembali ke Jakarta, 30 November pagi serah terima," kata Susno.

Langgar Prosedur

Dan pencairan dana tersebut dilakukan dengan mengabaikan prinsip-prinsip prudensial atau kehati-hatian dan melanggar prosedur. Pertama, sebagai seorang direktur yang berkecimpung di reserse wajib melakukan koordinasi dengan direktur lama antara Radja Erizman dengan Edmond Ilyas. Kemudian yang kedua seharusnya dilakukan gelar untuk mengetahui apakah benar tindak pencairan itu, yang harusnya dihadiri berbagai fungsi, seperti PPATK, bank, Irwasum, Propam, dan pihak terkait, ini diabaikan," kata Susno.

Alasan lainnya, PPATK tidak menerima surat laporan pencairan dana dan dalam surat tidak dicantumkan berapa nilai barang bukti yang diambil dari laporan sebanyak Rp 28 miliar.


Selain itu tidak ada satu nota pun yang diajukan Direktur II pada Bareskrim untuk minta petunjuk dan pertimbangan pencairan dana itu. Menurut Susno ada keanehan dalam berkas, yakni ada berita acara sumpah untuk saksi yang paling penting, yakni saksi boneka Andi Kosasih. Dengan berkas acara sumpah ini maka saksi yang paling penting tidak perlu hadir dalam persidangan.


"Kenapa saya yakin markus terjadi, karena sebelum saya turun saya dapat info ini, kemudian sespri saya perintahkan untuk memanggil Andi Kosasih karena uang itu disebut milik Andi Kosasih," katanya.


Saat itu Andi datang, tapi di belakangnya ada eks Direktur II Bareskrim Edmon Ilyas. Susno mengungkapkan, ia lalu meminta Edmon keluar karena ia akan bertemu empat mata dengan Andi Kosasih.


"Saya tanya, ini uang Anda. Dia jawab ya," kata Susno. Susno lalu bertanya lagi di mana ia mendapatkan uang dalam bentuk US$. Andi mengaku menukarnya dari money changer pada 1998 lalu. Namun tempat menukaran uang itu kini sudah ditutup.


Susno melihat ada sesuatu yang janggal karena ada pengusaha propertu yang menyimpan uang dari 1998 sampai 2010, atau selama 12 tahun. Saat diminta menunjukkan bukti tukarnya, Andi tidak bisa. Andi akhirnya menyerah dan mengatakan tidak benar uang Rp 28 miliar di rekening Gayus adalah uangnya.


"Saya tanya kenapa tidak benar, dia lalu bilang yang mengatur adalah saudara Haposan, pengacara," katanya. Susno lalu memanggil Edmon dan bertanya, apakah ia ikut terlibat dalam pengaturan kasus ini. Dia juga memanggil penyidik dan menanyakan apakah sisa uang itu sudah dicairkan atau belum. "Dijawab penyidik belum, lalu saya minta kasus ini dijadikan dua berkas. Sisanya harus diungkap karena itu korupsi pajak, ini bisa jadi pintu," katanya.


Seminggu setelah itu terjadi pergantian Direktur II Bareskrim dari Edmon Ilyas ke Radja Erizman. "Tidak lama kemudian dari itu saya dicopot," kata Susno.

Arwana

VIVAnews - Komisaris Jenderal Susno Duadji mengungkap ada kasus baru, mafia Arwana di Pekanbaru. Tak berapa lama, anggota Komisi III Bidang Hukum DPR berdebat alot untuk menentukan apakah rapat ini terbuka atau tertutup.

"Saya usulkan forum ini tertutup untuk ungkap kasus itu (Arwana). Faktanya bagaimana. Itu untuk membuka tidak hanya nama Mr X, tapi juga nama perusahaannya di Pekanbaru," kata anggota Fraksi Golkar, Azis Syamsudin, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis 8 April 2010.


Azis yang juga Wakil Ketua Komisi III Bidang Hukum ini menilai, sebaiknya rapat berlangsung tertutup. Rapat tertutup khusus untuk mengungkap kasus baru, mafia perusaahaan ikan Arwana di Pekanbaru, Riau.

Tapi usulan itu ditentang anggota Fraksi Hanura, Syarifuddin Suding. Syarifuddin menilai, berdasarkan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik, maka forum ini harus dibuka.

"Kalau Susno berani mengungkapkannya secara terbuka, kenapa harus ditutup? Jadi tanya dulu sama Pak Susno, berani menyebutkannya secara terbuka atau tidak?" ujar dia.

Dalam rapat dengan Komisi III di bagian akhir Susno menyebut ada kasus baru yang lebih besar dari kasus pajak Gayus Tambunan. Kali ini adalah kasus perusahaan ikan Arwana di Pekanbaru, Riau.

"Kasus pajak ini sama dengan kasus ratusan miliar pakan ternak Arwana di Pekanbaru," kata Susno Duadji.

Menurut Susno, dalam kasus pakan ternak Arwana di Pekanbaru itu memiliki beberapa kesamaan dengan kasus kepemilikan dana mencurigakan Rp 28 miliar, Gayus Tambunan.

"Haposannya sama, Mr X-nya sama. Katanya dia menanam saham di situ," kata mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri ini. Merujuk kasus Gayus Tambunan, Haposan Hutagalung adalah mantan pengacara Gayus yang sudah menjadi pengacara.

Kasus baru Arwana di Pekanbaru itu ternyata membuahkan ancaman bagi Susno. "Terkait ini, maka saya dianggap membahayakan karena dianggap akan mengungkap mafia ini," ujar Susno.

Susno: Gayus cuma artis, Kosasih cuma boneka

VIVAnews - Komisaris Jenderal Susno Duadji yang mengungkap kasus dugaan adanya makelar kasus di Polri, mengatakan, sampai hari ini kasus yang melibatkan oknum pegawai Pajak, Gayus Tambunan belum tuntas.

"Sampai hari ini belum ketahuan, belum diberikan namanya atau orangnya, siapa 'markus' yang sebenarnya, siapa Mr X," kata Susno dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi Hukum Polri, Kamis 8 April 2010.


Baru ada sejumlah nama yang terungkap di publik, ada Gayus, Andi Kosasih, pengacara Gayus, dan penyidik Polri.

"Kita baru tahu nama Gayus, ini adalah artis di dalam permainan, Mungkin juga korban karena uangnya habis," kata Susno. Sementara, "Andi Kosasih hanya pemain, boneka yang diciptakan," lanjut Susno.

Susno menyebut bahwa penyidik Polri dan penegak hukum lainnya yang diduga terlibat dalam perkara ini, punya predikat sama. "Mereka alat." Dalam kasus Gayus, Polri telah menetapkan tujuh tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah Gayus Tambunan, Haposan selaku pengacara Gayus, Andi Kosasih, Kompol Arafat, dan AKP Sri Sumartini, Lambertus yang merupakan bawahan Haposan, dan Alif Kuncoro yang dituduh menyampaikan suap kepada Kompol A.

Sejumlah perwira polri lainnya juga telah dinyatakan sebagai terperiksa karena melakukan pelanggaran kode etik profesi dan disiplin dalam pemeriksaan kasus Gayus. Mereka adalah Brigjen Edmon Ilyas, Brigjen Raja Erizman, Kombes Eko Budi Sampurno, Kombes Pambudi Pamungkas, dan AKBP Mardiani.

Susno anggap akan berhasil

VIVAnews - Mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Susno Duadji mengungkapkan alasannya membuka kasus dugaan makelar kasus di Polri adalah demi institusinya.

"Sampai saat ini masih yakin dengan Kapolri dengan cita-cita mereformasi polisi," kata Susno dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi Hukum Dewan, di Gedung DPRD, Senayan, Jakarta, Kamis 8 April 2010.


Jika berniat benar-benar mereformasi Polri, kata Susno, kapolri tidak akan setuju dengan mafia kasus yang diduga melibatkan para jenderal. Mengapa Susno tidak membongkar di dalam Polri? Menurut Susno ada dua pertimbangan. Yang pertama, kasus ini diketahui Susno setelah dilengserkan dari jabatan Kabareskrim.

Kedua, "Dari sisi strategi, tidak akan berhasil dalam situasi saat ini, dimana berbagai tekanan diberikan baik kepada Polri dan lembaga penegak hukum lainnya. Masyarakat masih berpendapat lama dalam menanggapi isu mafia hukum," jelas Susno.

"Jadi jelas, saya sendiri tidak akan mampu. Mungkin saya menjadi hancur," tambah Susno.
"Kalau tahu hasilnya tidak akan berhasil dan hancur, tetap dilakukan, bodoh sekali," lanjut Susno.

Kasus dugaan makelar kasus di tubuh Polri keluar dari mulut Susno Duadji. Beberapa penyidik Polri disebut Susno terlibat, termasuk dua jenderal, yakni Brigadir Jenderal Edmon Ilyas, dan Brigadir Jenderal Raja Erizman. Saat itu, Susno bahkan 'menantang' Satgas Antimafia Hukum untuk menyelesaikan kasus ini.

Wednesday, 7 April 2010

Lebih Heboh

JAKARTA--MI: Ketua Mahkamah Konstitusi Muhammad Mahfud MD kembali melontarkan wacana kontroversial. Ia menyebutkan bahwa dalam waktu dekat akan ada kasus korupsi yang akan meledak besar dan diperkirakan lebih hebat daripada kasus Gayus Tambunan. Mahfud mengaku informasi tersebut didapatkan dari anggota DPR.

Sumber Media Indonesia di DPR, menyatakan kemungkinan bahwa yang dimaksud Mahfud terkait dengan kasus pencucian uang dan pembobolan rekening PT Asian Agri, Vincentius Amin Sutanto. Ia menyatakan, dana senilai sekitar US$3 juta di rekening Vincent yang diblokir Polri, ternyata dicairkan, namun tidak dikembalikan ke Asian Agri atau ke Vincent.


"Ada pihak aparat Kepolisian yang mencairkan dana tersebut, artinya diambil aparat," kata sumber tersebut.

Ia menduga yang dimaksud Mahfud merupakan kasus tersebut, karena anggota DPR yang mengungkapkan kasus tersebut ke Mahfud juga memberitahukan dirinya. "Saya rasa itu yang dimaksud Pak Mahfud, karena setahu saya, Pak Mahfud dengan anggota DPR tersebut membicarakan hal itu," ungkapnya.

Vincentius Amin Sutanto adalah mantan Financial Controller PT Asian Agri. Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman 11 tahun penjara kepadanya dalam kasus pencucian uang dan pembobolan rekening PT Asian Agri di Bank Fortis Singapura.

Melalui putusan kasasi bernomor 328 K/Pid.Sus/2008 ini, majelis hakim kasasi yang diketuai Djoko Sarwoko juga menjatuhkan denda Rp150 juta subsider 1 tahun penjara, serta pembayaran uang pengganti Rp28,337 miliar dan 23 dolar Singapura.

Sebelumnya, Vincent sempat melarikan diri ketika terjerat kasus itu. Bahkan, dia pernah berusaha membongkar kasus tunggakan pembayaran pajak Raja Garuda Mas, induk perusahaan yang menaungi PT Asian Agri.

Sebelumnya, Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum juga telah mencium adanya indikasi praktik mafia hukum dalam penanganan kasus pencucian uang dan tunggakan pajak PT Asian Agri, dam menyatakan akan mengusut kasus tersebut.

Hal itu pernah diungkapkan oleh Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Denny Indrayana, setelah mengunjungi Vincent di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Narkotika Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (17/2/2010) lalu. (ST/OL-03)